"MELAYANI DENGAN SETULUS HATI"

Irwan

Irwan
Bismillah

Monday, 21 January 2013

LAPORAN TELAAH BUDAYA JAMBI


BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Kunjungan
Pendidikan merupakan modal terpenting dijaman sekarang ini. Dalam situasi dan kondisi sekarang ini tanpa adanya pendidikan yang memadai sulit untuk memacu diri kita untuk menggapai masa depan yang lebih cerah , semua ini diperlukan keinginan dan kemauan yang lebih dalam dari diri kita masing-masing. Dengan pendidikan dan belajar yang tekun dapat membawa kita semua untuk mewujudkan cita-cita dan impian yang telah kita harapkan di jaman modern dan global ini.

Dalam era globalisasi kita semua diharapkan terus berusaha meningkatkan sumber daya yang handal dan berkualitas yang mampu bersaing secara efektif.
Untuk dapat mencapai hal tersebut,maka dosen pendamping kami mendorong para mahasiswanya untuk belajar di luar kampus dengan cara kunjungan ke Musium Negeri Jambi, museum perjuangan negeri Jambi, candi Muara Jambi, dan Kampung laut suku Duanu Tanjab Timur Provinsi Jambi.
Melalui kunjungan ini, diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan  mahasiswa STKIP YPM Bangko, untuk selalu menggali dan potensi budaya yang terdapat di provinsi jambi.

  1. Tujuan
1.      Tujuan Kunjungan
Tujuan kunjungan ini adalah:
a.       Memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengenal lebih dekat tentang budaya Jambi secara nyata.
b.      Meningkatkan wawasan mahasiswa tentang budaya daerah Jambi melalui proses pengamatan langsung dilingkungan meliputi Museum Negeri jambi, Museum Perjuangan, Candi Muara Jambi, dan Suku Duanu.
c.       Menumbukan motifasi pada siswa untuk menghargai budaya Jambi dan menjadi manusia yang mampu berpikir logis, kritis, kreatif, mandiri dan berakhlaq mulia.
2.      Tujuan Pembuatan Laporan
Secara khusus tujuan pembuatan laporan ini adalah :
a.       Untuk mengetahui Sejarah serta budaya yang terdapat di Provinsi Jambi.
b.      Untuk memenuhi ketuntasan dalam mata mata Kulyah Telaah Budaya Jambi.
c.       Sebagai tanda bukti telah melakukan kunjungan ke Musium dan daerah bersejarah di Jambi.
d.      Sebagai informasi untuk peserta kunjungan tahun yang akan datang.

  1. Manfaat
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat:
a.      Untuk menambah wawasan masyarakat, khusunya pelajar dan mahasiswa, tentang perkembangan Budaya Jambi.
b.      Untuk menambah pengetahuan masyrakat tentang macam-macam Culture Budaya Jambi.
  1. Waktu dan Tempat
Pelaksanaan penelitian ini pada tanggal 11 s/d 13 januari 2012. Dan yang menjadi tempat tujuan penelitian ini adalah Museum Siginjai, Museum Perjuangan, Candi Muara Jambi, dan kampong laut(kuala Jambi).


BAB II
HASIL PENELITIAN
A.    Museum Negeri Siginjai Jambi
a.      Krologis Museum
Museum ini terletak didaerah simpang 4 Telanai Pura depan kantor PLN Kota Jambi. Museum ini berdiri pada tahun 1981 dengan peletakan batu pertama oleh gubernur Jambi kala itu yaitu Abdurahman Syayuti dan diresmikan pada tanggal 6 Juni 1988 yang ditanda tangani oleh menteri pendidikan dan kebudayaan RI pada saat itu  yaitu Prof. Dr. Fuad Hasan. dengan nama museum Provinsi Negeri Jambi.
Kemudian pada tanggal 30 oktober 2012 berubah nama menjadi museum Siginjai Negeri Jambi oleh gubernur Jambi yaitu Hasan Basri Agus.
b.      Khasanah Budaya Jambi
-          Peta Relief Provinsi Jambi
Contohnya : peta Jalan Raya, peta daerah aliran sungai (DAS)  Batang Hari, Pembagian Kota pemerintahan di Jambi.
-          Peta pembentukan daerah kota,kota madya, dan kabupaten se-Provinsi Jambi.
-          Peralatan tradisional suku adat jambi
Diantaranya adalah Penumbuk padi menggunakan kincir air, rumah adat, serta pakaian-pakaian suku adat yang tersebar di Jambi.
-          Fosil fosil penemuan sejarah dikawasan jambi. Seperti: batuan dan mineral tambang.
-          Bragam batik jambi, dan persebaran.
-          Miniatur Satwa Liar Yang Tesebar di Provinsi Jambi
Contoh: Harimau Sumatera, Beruang Madu, Trenggiling, Buaya Katak, musang, Gajah, Merak, Biawak, Harimau Dahan, dan Satwa lainya.
-          Reflika rumah adat suku Jambi, Reflika Patung dan prasasti
Diantaranya adalah : Arca Bhairawa, dan senjata peninggalan perjuangan (Meriam).
B.     Museum Perjuangan Rakyat Jambi
a.      Sejarah Singkat
Museum Perjuangan Rakyat Jambi terletak di antara Jl. Sultan Agung dan Jl. Slamet Riyadi atau sebelah selatan Mesjid Agung Jambi. Pendirian museum atas prakarsa dari Dewan Harian Daerah Angkatan '45 (DHD-'45) bersama Pemerintah Daerah Provinsi Jambi sebagai wujud dari pentingnya bangunan sebagai monumen dalam mengenang Sejarah Perjuangan Rakyat Jambi semasa pergerakan nasional dan kemerdekaan Indonesia.
Proses pembangunan museum ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia, Letjen. Achmad Thahir pada tanggal 6 Juni 1993.
Bentuk bangunan museum merupakan perpaduan antara gaya rumah tradisional Jambi dan arsitektur modern. Terdiri dari tiga lantai sebagai ruang pamer tetap dan dua teras pada kedua sayap bangunan yang sering dipergunakan sebagai ruang pamer temporer. Bangunannya sendiri seluas lebih kurang 1.365 m2 menempati lahan seluas 10.000 M.
Museum Perjuangan Rakyat Jambi secara simbolis dibuka oleh Presiden Republik Indonesia, Soeharto pada tanggal 10 Juli 1997 bersamaan dengan pembukaan MTQ Nasional ke-XVIII.
b.      Sejarah Jambi dan Kepahlawanan SULTAN THAHA SAIFUDDIN
Sejarah Jambi digambarkan dengan empat buah relief pada dinding depan bangunan. Dimulai dari Masa Melayu Kuno Jambi (Hindu-Budha), Masa Kesultanan Jambi, Masa Proklamasi Kemerdekaan RI dan Masa pembangunan Indonesia (Orde Baru).
Sedangkan pahlawan Nasional Sultan Thaha Saifuddin diwujudkan dalam sebuah patung Sultan yang diapit dua harimau sumatera sebagai simbol semangat perjuangan bersama-sama rakyat bertempur melawan penjajah Belanda pada tahun 1855 hingga 1904. Peristiwa perjuangannya sendiri dapat dilihat pada lukisan di lantai dua.
c.       Koleksi dan Diorama
Koleksi museum sebagian besar merupakan benda-benda yang terkait dengan tinggalan masa perjuangan rakyat Jambi. Benda-benda tersebut dipamerkan di dalam dan diluar gedung. Pada lantai pertama terbagi dalam dua ruang pamer.
Pada sisi kanan berupa koleksi persenjataan modern semasa perang melawan Penjajah Belanda di Jambi. Persenjataan tersebut dipergunakan pada perang kemerdekaan tahun 1945-1950, seperti senapan, pistol vickers, senjata mesin ringan, dan senjata lain. Termasuk jenis persenjataan modern yang unik adalah senjata rakitan tangan atau kecepek yang dipergunakan oleh Kompi II Batalyon Cindur Mato pada tahun 1948. Ada juga senjata seperti pistol dan senapan rampasan dari Pasukan Belanda.
Pada sisi kiri pengunjung, dapat dilihat peralatan senjata tradisional seperti keris, pedang, badik, tomhak, pakaian perang, ikat kepala, alat komunikasi dan perlengkapan perang bersifat religius yang dipergunakan melawan pasukan kolonial.Diantaranya yang dipakai oleh Khatib Mat Suruh dari Kerinci dan laskar Barisan Selempang Merah dari Tanjung Jabung.
Pada lantai dua disajikan diorama Sejarah Perjuangan Rakyat Jambi dalam mempertahankan kemerdekaan, terbagi dalam 17 diorama. Setiap diorama melukiskan peristiwa bersejarah yang terjadi di Jambi, mulai dari kemerdekaan nasional hingga usaha Belanda untuk menolak kemerdekaan dan hendak mengambil alih kembali wilayah Indonesia. Peristiswa bersejarah yang ditampilkan dalam diorama antara lain, Pertempuran Tanah Minyak. Realisasi Perjanjian Linggarjati oleh Komisi Tiga Negara terhadap Jambi yang diprakarsai PBB, Peranan Pesawat Udara Catalina RI 005, dan diorama lainnya. Pada lantai tiga terdapat koleksi meja kerja yang dipergunakan oleh salah seorang pejuang kemerdekaan. Terdapat pula berbagai dokumen tertulis seperti naskah-naskah perjuangan, surat-surat penting STD/TNI dan BKRD, serta foto-foto mantan gubernur, walikota dan bupati di seluruh wilayah Provinsi Jambi.
Salah satu koleksi bersejarah adalah replika Pesawat Terbang Catalina RI 005 yang dipajang di halaman museum. Awalnya Catalina disewa oleh Dewan Pertahanan Daerah Jambi dari seorang mantan penerbang RAAF (Royal Australian Air Force) bernama Kobley, untuk kepentingan perjuangan mempertahankan dan melindungi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tugasnya adalah membawa senjata, makanan, pakaian, dan perlengkapan militer atau petugas militer dan sipil yang menghubungkan antara Kota Jambi, Bukit Tinggi, Prapat, Banda Aceh, Tanjung Karang, Jogjakarta dan Singapura. Pesawat Catalina RI 005 dalam penerbangannya mengalami kecelakaan dan jatuh di Sungai Batanghari dekat Desa Sijinjang pada tanggal 29 Desember 1948.
d.      Peranan dan Harapan Museum
Museum Perjuangan Rakyat Jambi sebagai salah satu peranannya ditunjukan dalam kegiatan-kegiatan tetap dan temporer, ceramah, diskusi, seminar pertemuan-pertemuan yang terkait dengan even sejarah regional dan nasional.
e.       Hari dan Waktu Kunjungan
  - Senin s.d. Kamis : 08.00- 15.00 WIB
  - Jumat : 08.00-11.00 WIB
  - Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional TUTUP
f.       Informasi
Apabila sekolah atau rombongan akan berkunjung, dapat melalui surat pemberitahuan tiga hari sebelum melakukan kunjungan. Untuk meningkatkan mutu pelayanan museum terhadap masyarakat, disediakan layanan terdiri dari :
  1.  Ruang pameran tetap dan tidak tetap
  2.  Ruang seminar/ceramah/lokakarya/sarasehan.




C.    Candi Muara Jambi
Situs Purbakala Kompleks Percandian Muaro Jambi adalah sebuah kompleks percandian agama Hindu-Buddha terluas di Indonesia yang kemungkinan besar merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu. Kompleks percandian ini terletak di Kecamatan Muaro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, Indonesia, tepatnya di tepi Batang Hari, sekitar 26 kilometer arah timur Kota Jambi. Koordinat Selatan 01* 28'32" Timur 103* 40'04". Candi tersebut diperkirakakn berasal dari abad ke-11 M. Candi Muaro Jambi merupakan kompleks candi yang terbesar dan yang paling terawat di pulau Sumatera. Dan sejak tahun 2009 Kompleks Candi Muaro Jambi telah dicalonkan ke UNESCO untuk menjadi Situs Warisan Dunia.
Kompleks percandian Muaro Jambi pertama kali dilaporkan pada tahun 1824 oleh seorang letnan Inggris bernama S.C. Crooke yang melakukan pemetaan daerah aliran sungai untuk kepentingan militer. Baru tahun 1975, pemerintah Indonesia mulai melakukan pemugaran yang serius yang dipimpin R. Soekmono. Berdasarkan aksara Jawa Kuno[rujukan?] pada beberapa lempeng yang ditemukan, pakar epigrafi Boechari menyimpulkan peninggalan itu berkisar dari abad ke-9-12 Masehi. Di situs ini baru sembilan bangunan yang telah dipugar,[1] dan kesemuanya adalah bercorak Buddhisme. Kesembilan candi tersebut adalah Candi Kotomahligai, Kedaton, Gedong Satu, Gedong Dua, Gumpung, Tinggi, Telago Rajo, Kembar Batu, dan Candi Astano.
Dari sekian banyaknya penemuan yang ada, Junus Satrio Atmodjo menyimpulkan daerah itu dulu banyak dihuni dan menjadi tempat bertemu berbagai budaya. Ada manik-manik yang berasal dari Persia, China, dan India. Agama Buddha Mahayana Tantrayana diduga menjadi agama mayoritas dengan diketemukannya lempeng-lempeng bertuliskan "wajra" pada beberapa candi yang membentuk mandala.
Kompleks percandian Muaro Jambi terletak pada tanggul alam kuno Sungai Batanghari. Situs ini mempunyai luas 12 km persegi, panjang lebih dari 7 kilometer serta luas sebesar 260 hektar yang membentang searah dengan jalur sungai. Situs ini berisi 61 candi yang sebagian besar masih berupa gundukan tanah (menapo) yang belum dikupas (diokupasi). Dalam kompleks percandian ini terdapat pula beberapa bangunan berpengaruh agama Hindu.
Di dalam kompleks tersebut tidak hanya terdapat candi tetapi juga ditemukan parit atau kanal kuno buatan manusia, kolam tempat penammpungan air serta gundukan tanah yang di dalamnya terdapat struktur bata kuno. Dalam kompleks tersebut minimal terdapat 85 buah menapo yang saat ini masih dimiliki oleh penduduk setempat. Selain tinggalan yang berupa bangunan, dalam kompleks tersebut juga ditemukan arca prajnaparamita, dwarapala, gajahsimha, umpak batu, lumpang/lesung batu. Gong perunggu dengan tulisan Cina, mantra Buddhis yang ditulis pada kertas emas, keramik asing, tembikar, belanga besar dari perunggu, mata uang Cina, manik-manik, bata-bata bertulis, bergambar dan bertanda, fragmen pecahan arca batu, batu mulia serta fragmen besi dan perunggu. Selain candi pada kompleks tersebut juga ditemukan gundukan tanah (gunung kecil) yang juga buatan manusia. Oleh masyarakat setempat gunung kecil tersebut disebut sebagai Bukit Sengalo atau Candi Bukit Perak.
D.    Suku Bajau/Duanu Jambi
Suku Bajau Jambi adalah salah satu suku petualang laut yang hidup di pesisir pantai provinsi Jambi. Dahulu Suku Bajau Jambi ini adalah suku bangsa petualang laut yang menjelajah laut dari satu tempat ke tempat yang lain. Mereka sebenarnya tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Dari Sumatra-Riau, Sulawesi Selatan dan Tenggara, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sumenep Madura hingga ke wilayah Filipina, Malaysia dan beberapa tempat di Indochina. Hanya saja di tempat-tempat baru mereka tersebut, kemungkinan mereka memiliki sebutan lain untuk nama kelompok mereka.
Asal-usul suku Bajau ini menimbulkan banyak pendapat, salah satunya mengatakan suku Bajau berasal dari Kepulauan Sulu di Filipina Selatan. Mereka merupakan suku bangsa nomaden yang hidup di atas laut, dengan sebutan sea gipsy atau gipsi laut. Karena mereka telah tersebar-sebar di segala penjuru Asia Tenggara ini, bahasa yang mereka gunakan juga berbeda-beda. Suku Bajau di Filipina memakai bahasa Sama-Bajau, sedangkan yang di Sumatra menggunakan bahasa Melayu yang lebih tua dari bahasa Melayu di Sumatra. Begitu juga suku Bajau yang berada di daerah-daerah lain, biasa menggunakan bahasa yang berbeda lagi. Bahasa Bajau diperkirakan lebih dari 30 dialek bahasa Bajau.
Pendapat lain suku Bajau adalah salah satu dari kelompok Proto Malayan yang bermigrasi ke wilayah Asia Tenggara yang berasal dari daratan Indochina, yang mendarat di pantai sebelah barat Sumatra, dan beberapa pulau-pulau kecil di Kepulauan Riau. Setelah sekian lama sebagian dari mereka melakukan perjalanan di laut dan mendarat di Semenanjung Malaysia dan di pulau-pulau lain seperti di Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan lain-lain.
Sejak ratusan tahun yang lalu mereka sudah menyebar ke negeri Sabah dan berbagai wilayah Indonesia. Suku Bajau juga merupakan salah satu suku bangsa di negeri Sabah. Suku Bajau di Kalimantan diperkirakan bermigrasi dari arah utara (Filipina) pada zaman prasejarah. Suku Bajau merupakan gelombang terakhir migrasi dari arah utara Kalimantan yang memasuki pesisir Kalimantan Timur hingga Kalimantan Selatan dan menduduki pulau-pulau sekitarnya, lebih dahulu dari kedatangan suku-suku pendatang lain dari rumpun Bugis.
Suku Bajau Jambi ini hidup sangat sederhana, dari segi ekonomi dan pendidikan masih jauh dari baik. Suku ini hidup di rumah-rumah di atas air. Mereka hidup dan melakukan aktifitas rumah tangga dan keluarga di rumah-rumah mereka yang terbuat dari papan yang berada di atas permukaan air laut dekat dengan pesisir pantai laut.
Orang Bajau masih percaya terhadap hal-hal takhyul seperti percaya bahwa laut itu berpenghuni. Mereka menempatkan unsur api, angin, tanah, dan air dengan nilai sakral tinggi. Keempat unsur ini merupakan cerminan empat unsur penting lainnya, yaitu tubuh, hati, roh dan manusia.
Kehidupan masyarakat suku Bajau Jambi ini hanya menggantungkan hidup dari profesi sebagai nelayan di laut. Jarang sekali dijumpai mereka hidup dalam bentuk usaha lain, seperti petani, pedagang dan pegawai. Walaupun sebagian dari mereka telah hidup di darat, tetapi tetap mengalami berbagai persoalan. Kehidupan masyarakat suku Bajau ini kerap terpinggirkan dari komunitas masyarakat lainnya.
Dari hasil wawancara dengan Ketua Rt disana beliau mangungkapkan “didaerah pesisir pantai tersebut dahulunya memang dihuni hanya satu suku yaitu suku bajau atau suku duanu karna perubahan era globalisasi maka sekarang disana telah bercampur suku. Diantaranya adalah suku Bugis, suku Melayu, suku Madura, termasuklah didalamnya suku bajau/Duanu.
Disana budaya telah bercampur, tidak ada tuntutan untuk penggunaan secara paksa terhadap budaya. Yang berarti saling menghargai budaya satu dengan budaya yang lain.
Dari hasil wawancara kepada seorang keturunan asli suku duanu yaitu bapak Giman yang berumur kira-kira 64 tahun. Beliau mengunghkapkan berbagai keluhan terhadapa pemerintahan dan kehidupan ekonominya. Diusia lansianya beliau belum mengenyam bantuan dari pemertintah setempat. Adapaun bantuan yang turun dari pemerintah tidak sesuai dengan yang seharusnya. Mereka hanya mendapatkan bantuan perahu pompon yang kecil itupun hanya perahu tanpa peralatan selanajutnya peralatan jala, dan mesin penggerak. Yang ibaratnya mereka harus membeli sendiri mesin penggerak dengan cara menjual apa saja mereak miliki untuk bisa dijual dan untuk membeli peralatan tersebut. Padahal potensi lautan disana sangatlah memadai. Tapi mereka merasa mengeluh atas semua itu. Dikarenakan “setiap bantuan yang turun hanya untuk suku pendatang” Ungkap Pak Giman saat ditanya team wawancara STKIP YPM Bangko.
Beliau juga menambahkan dengan keterbatasan melaut suku duanu/bajaul dikalahklan dengan nelyan-nelayan dari luar, baik dari luar jambi maupun dari luar nusantara seperti Singapura, Malaisya dan negara tetangga lainnya.
Padahal peraturan pemerintah setiap nelayan luar nusantara dilarang memasuki wilayah peraian nusantara untuk bernelayan. Hal tersebut dikarenakan karena penjaga pantai atau oknum pemerintahan/TNI AL yang menjadi penjaga pantai telah mendapat seperti upeti dari pihak nelayan asing tersebut. Sehingga peraturan yang telah ditetapkan tidak lagi beraajalan sesuai dengan koridor yang telah ditetapkan.
Tapi ada hal yang membuat kita takjub, yaitu pak Giman tersebut mampu menyelam sampai kedalam 9 s/d 12 meter dibawah permukaan laut selama kurang lebih 1 jam tanpa alat bantuan menyelam.
Harapan dari suku duanu ini sangat besar, diantaranya adalah mereka memohon kepada pemerintah agar tak teranulir, dan mendapat tempat atau pemukiman yang layak, seperti tempat tinggal dan bantuan bantuan yang katanya khusus untuk rakyat tidaka mampu yang selama ini belum pernah mereka dapatkan.
Dia juga mengungkapkan bahwa pengahasilan beliau setiap melaut sekitar lebih kurang Rp. 35.000,- itupun belum termasuk biaya BBM untuk melaut. Dalam 1 hari mereka membutuhkan BBM sebanyak 3 liter itupun tidak bisa untuk lepas pantai. Karena harga BBM terlalu mahal dengan harga Rp.6500/liter, yang tidak sesuai dengan pengahasilan sehari-hari mereka.









BAB III
P E N U T U P

A.    Kesimpulan
Dari hasil observasi disimpulkan sebagai berikut :
1.      Budaya yang terdapat dikawasan Jambi cukup beragam.
2.      Banyak situs kebudayaan yang belum dipublikasikan
3.      Sejarah Jambi memilki liku-liku cerita pahit perjuangan.
4.      Warga didaerah suku duanu termasuk kedalam rakyat dibawah garis kemiskinan.
5.      Pemerintah didaerah kuala jambi kurang memperhatikan perekonomian dan pendidikan masyarakat setempat.
B.     Saran
a.       Sebagai putra daerah sekaligus penerus masa depan negeri Jambi kita harus menjaga dan melestarikan budaya yang ada dengan bangga serta ikut mempromosikan ke dunia.
b.      Diharapkan kepada pemerintah untuk dapat memberi bantuan secara merata tanpa memandang ras dan kasta.
c.       Sebagai masyarakat Jambi Khususnya dan sebagai masyarakat nusantara umumnya harus pandai memilah dan memilki pengetahuan terhadap budaya yang ada agar nantinya budaya tersebut tidak pernah raib dari peradaban dan perubahan.


No comments:

Post a Comment