BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang Kunjungan
Pendidikan
merupakan modal terpenting dijaman sekarang ini. Dalam situasi dan kondisi
sekarang ini tanpa adanya pendidikan yang memadai sulit untuk memacu diri kita
untuk menggapai masa depan yang lebih cerah , semua ini diperlukan keinginan
dan kemauan yang lebih dalam dari diri kita masing-masing. Dengan pendidikan
dan belajar yang tekun dapat membawa kita semua untuk mewujudkan cita-cita dan
impian yang telah kita harapkan di jaman modern dan global ini.
Dalam era
globalisasi kita semua diharapkan terus berusaha meningkatkan sumber daya yang
handal dan berkualitas yang mampu bersaing secara efektif.
Untuk
dapat mencapai hal tersebut,maka dosen pendamping kami mendorong para mahasiswanya
untuk belajar di luar kampus dengan cara kunjungan ke Musium Negeri Jambi,
museum perjuangan negeri Jambi, candi Muara Jambi, dan Kampung laut suku Duanu
Tanjab Timur Provinsi Jambi.
Melalui
kunjungan ini, diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan mahasiswa STKIP YPM Bangko, untuk selalu
menggali dan potensi budaya yang terdapat di provinsi jambi.
- Tujuan
1. Tujuan Kunjungan
Tujuan kunjungan ini
adalah:
a. Memberikan kesempatan kepada mahasiswa
untuk mengenal lebih dekat tentang budaya Jambi secara nyata.
b. Meningkatkan wawasan mahasiswa
tentang budaya daerah Jambi melalui proses pengamatan langsung dilingkungan meliputi
Museum Negeri jambi, Museum Perjuangan, Candi Muara Jambi, dan Suku Duanu.
c. Menumbukan motifasi pada siswa untuk
menghargai budaya Jambi dan menjadi manusia yang mampu berpikir logis, kritis,
kreatif, mandiri dan berakhlaq mulia.
2. Tujuan Pembuatan Laporan
Secara khusus tujuan
pembuatan laporan ini adalah :
a. Untuk mengetahui Sejarah serta budaya
yang terdapat di Provinsi Jambi.
b. Untuk memenuhi ketuntasan dalam mata mata
Kulyah Telaah Budaya Jambi.
c. Sebagai tanda bukti telah melakukan
kunjungan ke Musium dan daerah bersejarah di Jambi.
d. Sebagai informasi untuk peserta
kunjungan tahun yang akan datang.
- Manfaat
Penelitian ini diharapkan
dapat bermanfaat:
a.
Untuk menambah wawasan masyarakat, khusunya pelajar dan mahasiswa,
tentang perkembangan Budaya Jambi.
b.
Untuk menambah pengetahuan masyrakat tentang macam-macam Culture Budaya
Jambi.
- Waktu dan Tempat
Pelaksanaan
penelitian ini pada tanggal 11 s/d 13 januari 2012. Dan yang menjadi tempat
tujuan penelitian ini adalah Museum Siginjai, Museum Perjuangan, Candi Muara
Jambi, dan kampong laut(kuala Jambi).
BAB II
HASIL PENELITIAN
A. Museum Negeri Siginjai Jambi
a.
Krologis
Museum
Museum
ini terletak didaerah simpang 4 Telanai Pura depan kantor PLN Kota Jambi.
Museum ini berdiri pada tahun 1981 dengan peletakan batu pertama oleh gubernur
Jambi kala itu yaitu Abdurahman Syayuti dan diresmikan pada tanggal 6 Juni 1988
yang ditanda tangani oleh menteri pendidikan dan kebudayaan RI pada saat
itu yaitu Prof. Dr. Fuad Hasan. dengan
nama museum Provinsi Negeri Jambi.
Kemudian
pada tanggal 30 oktober 2012 berubah nama menjadi museum Siginjai Negeri Jambi
oleh gubernur Jambi yaitu Hasan Basri Agus.
b.
Khasanah
Budaya Jambi
-
Peta Relief Provinsi Jambi
Contohnya : peta Jalan
Raya, peta daerah aliran sungai (DAS) Batang Hari, Pembagian Kota pemerintahan di
Jambi.
-
Peta pembentukan daerah kota,kota madya,
dan kabupaten se-Provinsi Jambi.
-
Peralatan tradisional suku adat jambi
Diantaranya adalah Penumbuk
padi menggunakan kincir air, rumah adat, serta pakaian-pakaian suku adat yang
tersebar di Jambi.
-
Fosil fosil penemuan sejarah dikawasan
jambi. Seperti: batuan dan mineral tambang.
-
Bragam batik jambi, dan persebaran.
-
Miniatur Satwa Liar Yang Tesebar di
Provinsi Jambi
Contoh: Harimau
Sumatera, Beruang Madu, Trenggiling, Buaya Katak, musang, Gajah, Merak, Biawak,
Harimau Dahan, dan Satwa lainya.
-
Reflika rumah adat suku Jambi, Reflika
Patung dan prasasti
Diantaranya adalah :
Arca Bhairawa, dan senjata peninggalan perjuangan (Meriam).
B.
Museum
Perjuangan Rakyat Jambi
a.
Sejarah
Singkat
Museum Perjuangan Rakyat Jambi terletak di
antara Jl. Sultan Agung dan Jl. Slamet Riyadi atau sebelah selatan Mesjid Agung
Jambi. Pendirian museum atas prakarsa dari Dewan Harian Daerah Angkatan '45
(DHD-'45) bersama Pemerintah Daerah Provinsi Jambi sebagai wujud dari
pentingnya bangunan sebagai monumen dalam mengenang Sejarah Perjuangan Rakyat
Jambi semasa pergerakan nasional dan kemerdekaan Indonesia.
Proses pembangunan museum ditandai dengan
peletakan batu pertama oleh Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia, Letjen.
Achmad Thahir pada tanggal 6 Juni 1993.
Bentuk bangunan museum merupakan perpaduan
antara gaya rumah tradisional Jambi dan arsitektur modern. Terdiri dari tiga
lantai sebagai ruang pamer tetap dan dua teras pada kedua sayap bangunan yang
sering dipergunakan sebagai ruang pamer temporer. Bangunannya sendiri seluas
lebih kurang 1.365 m2 menempati lahan seluas 10.000 M.
Museum Perjuangan Rakyat Jambi secara simbolis
dibuka oleh Presiden Republik Indonesia, Soeharto pada tanggal 10 Juli 1997
bersamaan dengan pembukaan MTQ Nasional ke-XVIII.
b.
Sejarah Jambi dan Kepahlawanan SULTAN THAHA
SAIFUDDIN
Sejarah Jambi digambarkan dengan empat buah
relief pada dinding depan bangunan. Dimulai dari Masa Melayu Kuno Jambi (Hindu-Budha),
Masa Kesultanan Jambi, Masa Proklamasi Kemerdekaan RI dan Masa pembangunan
Indonesia (Orde Baru).
Sedangkan pahlawan Nasional Sultan Thaha
Saifuddin diwujudkan dalam sebuah patung Sultan yang diapit dua harimau
sumatera sebagai simbol semangat perjuangan bersama-sama rakyat bertempur
melawan penjajah Belanda pada tahun 1855 hingga 1904. Peristiwa perjuangannya
sendiri dapat dilihat pada lukisan di lantai dua.
c.
Koleksi dan Diorama
Koleksi museum sebagian besar merupakan
benda-benda yang terkait dengan tinggalan masa perjuangan rakyat Jambi.
Benda-benda tersebut dipamerkan di dalam dan diluar gedung. Pada lantai pertama
terbagi dalam dua ruang pamer.
Pada sisi kanan berupa koleksi persenjataan
modern semasa perang melawan Penjajah Belanda di Jambi. Persenjataan tersebut
dipergunakan pada perang kemerdekaan tahun 1945-1950, seperti senapan, pistol
vickers, senjata mesin ringan, dan senjata lain. Termasuk jenis persenjataan
modern yang unik adalah senjata rakitan tangan atau kecepek yang dipergunakan
oleh Kompi II Batalyon Cindur Mato pada tahun 1948. Ada juga senjata seperti
pistol dan senapan rampasan dari Pasukan Belanda.
Pada sisi kiri pengunjung, dapat dilihat
peralatan senjata tradisional seperti keris, pedang, badik, tomhak, pakaian
perang, ikat kepala, alat komunikasi dan perlengkapan perang bersifat religius
yang dipergunakan melawan pasukan kolonial.Diantaranya yang dipakai oleh Khatib
Mat Suruh dari Kerinci dan laskar Barisan Selempang Merah dari Tanjung Jabung.
Pada lantai dua disajikan diorama Sejarah
Perjuangan Rakyat Jambi dalam mempertahankan kemerdekaan, terbagi dalam 17
diorama. Setiap diorama melukiskan peristiwa bersejarah yang terjadi di Jambi,
mulai dari kemerdekaan nasional hingga usaha Belanda untuk menolak kemerdekaan
dan hendak mengambil alih kembali wilayah Indonesia. Peristiswa bersejarah yang
ditampilkan dalam diorama antara lain, Pertempuran Tanah Minyak. Realisasi
Perjanjian Linggarjati oleh Komisi Tiga Negara terhadap Jambi yang diprakarsai
PBB, Peranan Pesawat Udara Catalina RI 005, dan diorama lainnya. Pada lantai
tiga terdapat koleksi meja kerja yang dipergunakan oleh salah seorang pejuang
kemerdekaan. Terdapat pula berbagai dokumen tertulis seperti naskah-naskah
perjuangan, surat-surat penting STD/TNI dan BKRD, serta foto-foto mantan
gubernur, walikota dan bupati di seluruh wilayah Provinsi Jambi.
Salah satu koleksi bersejarah adalah replika
Pesawat Terbang Catalina RI 005 yang dipajang di halaman museum. Awalnya
Catalina disewa oleh Dewan Pertahanan Daerah Jambi dari seorang mantan
penerbang RAAF (Royal Australian Air Force) bernama Kobley, untuk kepentingan
perjuangan mempertahankan dan melindungi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tugasnya adalah membawa senjata, makanan, pakaian, dan perlengkapan militer
atau petugas militer dan sipil yang menghubungkan antara Kota Jambi, Bukit
Tinggi, Prapat, Banda Aceh, Tanjung Karang, Jogjakarta dan Singapura. Pesawat
Catalina RI 005 dalam penerbangannya mengalami kecelakaan dan jatuh di Sungai
Batanghari dekat Desa Sijinjang pada tanggal 29 Desember 1948.
d.
Peranan dan Harapan Museum
Museum Perjuangan Rakyat Jambi sebagai salah
satu peranannya ditunjukan dalam kegiatan-kegiatan tetap dan temporer, ceramah,
diskusi, seminar pertemuan-pertemuan yang terkait dengan even sejarah regional
dan nasional.
e.
Hari dan Waktu Kunjungan
- Senin s.d. Kamis : 08.00- 15.00
WIB
- Jumat : 08.00-11.00 WIB
- Sabtu, Minggu, dan hari libur
nasional TUTUP
f.
Informasi
Apabila sekolah atau rombongan akan berkunjung, dapat melalui surat
pemberitahuan tiga hari sebelum melakukan kunjungan. Untuk meningkatkan mutu pelayanan museum
terhadap masyarakat, disediakan layanan terdiri dari :
1. Ruang pameran tetap dan
tidak tetap
2. Ruang
seminar/ceramah/lokakarya/sarasehan.
C. Candi Muara Jambi
Situs Purbakala Kompleks Percandian Muaro
Jambi adalah sebuah kompleks percandian agama Hindu-Buddha terluas di Indonesia
yang kemungkinan besar merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan
Melayu. Kompleks percandian ini terletak di Kecamatan Muaro Sebo, Kabupaten
Muaro Jambi, Jambi, Indonesia, tepatnya di tepi Batang Hari, sekitar 26
kilometer arah timur Kota Jambi. Koordinat Selatan 01* 28'32" Timur 103*
40'04". Candi tersebut diperkirakakn berasal dari abad ke-11 M. Candi
Muaro Jambi merupakan kompleks candi yang terbesar dan yang paling terawat di
pulau Sumatera. Dan sejak tahun 2009 Kompleks Candi Muaro Jambi telah
dicalonkan ke UNESCO untuk menjadi Situs Warisan Dunia.
Kompleks percandian Muaro Jambi pertama kali
dilaporkan pada tahun 1824 oleh seorang letnan Inggris bernama S.C. Crooke yang
melakukan pemetaan daerah aliran sungai untuk kepentingan militer. Baru tahun
1975, pemerintah Indonesia mulai melakukan pemugaran yang serius yang dipimpin
R. Soekmono. Berdasarkan aksara Jawa Kuno[rujukan?] pada beberapa lempeng yang
ditemukan, pakar epigrafi Boechari menyimpulkan peninggalan itu berkisar dari
abad ke-9-12 Masehi. Di situs ini baru sembilan bangunan yang telah dipugar,[1]
dan kesemuanya adalah bercorak Buddhisme. Kesembilan candi tersebut adalah
Candi Kotomahligai, Kedaton, Gedong Satu, Gedong Dua, Gumpung, Tinggi, Telago
Rajo, Kembar Batu, dan Candi Astano.
Dari sekian banyaknya penemuan yang ada, Junus
Satrio Atmodjo menyimpulkan daerah itu dulu banyak dihuni dan menjadi tempat
bertemu berbagai budaya. Ada manik-manik yang berasal dari Persia, China, dan
India. Agama Buddha Mahayana Tantrayana diduga menjadi agama mayoritas dengan
diketemukannya lempeng-lempeng bertuliskan "wajra" pada beberapa
candi yang membentuk mandala.
Kompleks percandian Muaro Jambi terletak pada
tanggul alam kuno Sungai Batanghari. Situs ini mempunyai luas 12 km persegi,
panjang lebih dari 7 kilometer serta luas sebesar 260 hektar yang membentang
searah dengan jalur sungai. Situs ini berisi 61 candi yang sebagian besar masih
berupa gundukan tanah (menapo) yang belum dikupas (diokupasi). Dalam kompleks percandian ini terdapat pula
beberapa bangunan berpengaruh agama Hindu.
Di dalam kompleks tersebut tidak hanya terdapat
candi tetapi juga ditemukan parit atau kanal kuno buatan manusia, kolam tempat
penammpungan air serta gundukan tanah yang di dalamnya terdapat struktur bata
kuno. Dalam kompleks tersebut minimal terdapat 85 buah menapo yang saat ini
masih dimiliki oleh penduduk setempat. Selain tinggalan yang berupa bangunan,
dalam kompleks tersebut juga ditemukan arca prajnaparamita, dwarapala,
gajahsimha, umpak batu, lumpang/lesung batu. Gong perunggu dengan tulisan Cina,
mantra Buddhis yang ditulis pada kertas emas, keramik asing, tembikar, belanga
besar dari perunggu, mata uang Cina, manik-manik, bata-bata bertulis, bergambar
dan bertanda, fragmen pecahan arca batu, batu mulia serta fragmen besi dan
perunggu. Selain candi pada kompleks tersebut juga ditemukan gundukan tanah
(gunung kecil) yang juga buatan manusia. Oleh masyarakat setempat gunung kecil
tersebut disebut sebagai Bukit Sengalo atau Candi Bukit Perak.
D. Suku Bajau/Duanu Jambi
Suku Bajau Jambi adalah salah satu suku petualang
laut yang hidup di pesisir pantai provinsi Jambi. Dahulu Suku Bajau Jambi ini adalah suku bangsa
petualang laut yang menjelajah laut dari satu tempat ke tempat yang lain.
Mereka sebenarnya tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Dari
Sumatra-Riau, Sulawesi Selatan dan Tenggara, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur,
Nusa Tenggara Barat, Sumenep Madura hingga ke wilayah Filipina, Malaysia dan
beberapa tempat di Indochina. Hanya saja di tempat-tempat baru mereka tersebut,
kemungkinan mereka memiliki sebutan lain untuk nama kelompok mereka.
Asal-usul suku Bajau ini menimbulkan banyak
pendapat, salah satunya mengatakan suku Bajau berasal dari Kepulauan Sulu di
Filipina Selatan. Mereka merupakan suku bangsa nomaden yang hidup di atas laut,
dengan sebutan sea gipsy atau gipsi laut. Karena mereka telah tersebar-sebar di
segala penjuru Asia Tenggara ini, bahasa yang mereka gunakan juga berbeda-beda.
Suku Bajau di Filipina memakai bahasa Sama-Bajau, sedangkan yang di Sumatra
menggunakan bahasa Melayu yang lebih tua dari bahasa Melayu di Sumatra. Begitu
juga suku Bajau yang berada di daerah-daerah lain, biasa menggunakan bahasa
yang berbeda lagi. Bahasa Bajau diperkirakan lebih dari 30 dialek bahasa Bajau.
Pendapat lain suku Bajau adalah salah satu
dari kelompok Proto Malayan yang bermigrasi ke wilayah Asia Tenggara yang
berasal dari daratan Indochina, yang mendarat di pantai sebelah barat Sumatra,
dan beberapa pulau-pulau kecil di Kepulauan Riau. Setelah sekian lama sebagian
dari mereka melakukan perjalanan di laut dan mendarat di Semenanjung Malaysia dan
di pulau-pulau lain seperti di Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Nusa
Tenggara Timur dan lain-lain.
Sejak ratusan tahun yang lalu mereka sudah
menyebar ke negeri Sabah dan berbagai wilayah Indonesia. Suku Bajau juga
merupakan salah satu suku bangsa di negeri Sabah. Suku Bajau di Kalimantan
diperkirakan bermigrasi dari arah utara (Filipina) pada zaman
prasejarah. Suku Bajau merupakan gelombang terakhir migrasi dari arah
utara Kalimantan yang memasuki pesisir Kalimantan Timur hingga Kalimantan Selatan
dan menduduki pulau-pulau sekitarnya, lebih dahulu dari kedatangan suku-suku
pendatang lain dari rumpun Bugis.
Suku Bajau Jambi ini hidup sangat sederhana,
dari segi ekonomi dan pendidikan masih jauh dari baik. Suku ini hidup di
rumah-rumah di atas air. Mereka hidup dan melakukan aktifitas rumah tangga dan
keluarga di rumah-rumah mereka yang terbuat dari papan yang berada di atas
permukaan air laut dekat dengan pesisir pantai laut.
Orang Bajau masih percaya terhadap hal-hal
takhyul seperti percaya bahwa laut itu berpenghuni. Mereka menempatkan unsur
api, angin, tanah, dan air dengan nilai sakral tinggi. Keempat unsur ini
merupakan cerminan empat unsur penting lainnya, yaitu tubuh, hati, roh dan
manusia.
Kehidupan masyarakat suku Bajau Jambi ini
hanya menggantungkan hidup dari profesi sebagai nelayan di laut. Jarang sekali
dijumpai mereka hidup dalam bentuk usaha lain, seperti petani, pedagang dan
pegawai. Walaupun sebagian dari mereka telah hidup di darat, tetapi tetap
mengalami berbagai persoalan. Kehidupan masyarakat suku Bajau ini kerap
terpinggirkan dari komunitas masyarakat lainnya.
Dari
hasil wawancara dengan Ketua Rt disana beliau mangungkapkan “didaerah pesisir
pantai tersebut dahulunya memang dihuni hanya satu suku yaitu suku bajau atau
suku duanu karna perubahan era globalisasi maka sekarang disana telah bercampur
suku. Diantaranya adalah suku Bugis, suku Melayu, suku Madura, termasuklah
didalamnya suku bajau/Duanu.
Disana
budaya telah bercampur, tidak ada tuntutan untuk penggunaan secara paksa
terhadap budaya. Yang berarti saling menghargai budaya satu dengan budaya yang
lain.
Dari
hasil wawancara kepada seorang keturunan asli suku duanu yaitu bapak Giman yang
berumur kira-kira 64 tahun. Beliau mengunghkapkan berbagai keluhan terhadapa
pemerintahan dan kehidupan ekonominya. Diusia lansianya beliau belum mengenyam
bantuan dari pemertintah setempat. Adapaun bantuan yang turun dari pemerintah
tidak sesuai dengan yang seharusnya. Mereka hanya mendapatkan bantuan perahu
pompon yang kecil itupun hanya perahu tanpa peralatan selanajutnya peralatan
jala, dan mesin penggerak. Yang ibaratnya mereka harus membeli sendiri mesin
penggerak dengan cara menjual apa saja mereak miliki untuk bisa dijual dan
untuk membeli peralatan tersebut. Padahal potensi lautan disana sangatlah
memadai. Tapi mereka merasa mengeluh atas semua itu. Dikarenakan “setiap
bantuan yang turun hanya untuk suku pendatang” Ungkap Pak Giman saat ditanya
team wawancara STKIP YPM Bangko.
Beliau
juga menambahkan dengan keterbatasan melaut suku duanu/bajaul dikalahklan
dengan nelyan-nelayan dari luar, baik dari luar jambi maupun dari luar
nusantara seperti Singapura, Malaisya dan negara tetangga lainnya.
Padahal
peraturan pemerintah setiap nelayan luar nusantara dilarang memasuki wilayah
peraian nusantara untuk bernelayan. Hal tersebut dikarenakan karena penjaga
pantai atau oknum pemerintahan/TNI AL yang menjadi penjaga pantai telah
mendapat seperti upeti dari pihak nelayan asing tersebut. Sehingga peraturan
yang telah ditetapkan tidak lagi beraajalan sesuai dengan koridor yang telah
ditetapkan.
Tapi ada
hal yang membuat kita takjub, yaitu pak Giman tersebut mampu menyelam sampai
kedalam 9 s/d 12 meter dibawah permukaan laut selama kurang lebih 1 jam tanpa
alat bantuan menyelam.
Harapan
dari suku duanu ini sangat besar, diantaranya adalah mereka memohon kepada
pemerintah agar tak teranulir, dan mendapat tempat atau pemukiman yang layak,
seperti tempat tinggal dan bantuan bantuan yang katanya khusus untuk rakyat
tidaka mampu yang selama ini belum pernah mereka dapatkan.
Dia juga
mengungkapkan bahwa pengahasilan beliau setiap melaut sekitar lebih kurang Rp.
35.000,- itupun belum termasuk biaya BBM untuk melaut. Dalam 1 hari mereka
membutuhkan BBM sebanyak 3 liter itupun tidak bisa untuk lepas pantai. Karena
harga BBM terlalu mahal dengan harga Rp.6500/liter, yang tidak sesuai dengan
pengahasilan sehari-hari mereka.
BAB III
P E N U
T U P
A.
Kesimpulan
Dari
hasil observasi disimpulkan sebagai berikut :
1. Budaya
yang terdapat dikawasan Jambi cukup beragam.
2. Banyak
situs kebudayaan yang belum dipublikasikan
3. Sejarah
Jambi memilki liku-liku cerita pahit perjuangan.
4. Warga
didaerah suku duanu termasuk kedalam rakyat dibawah garis kemiskinan.
5. Pemerintah
didaerah kuala jambi kurang memperhatikan perekonomian dan pendidikan
masyarakat setempat.
B.
Saran
a. Sebagai
putra daerah sekaligus penerus masa depan negeri Jambi kita harus menjaga dan
melestarikan budaya yang ada dengan bangga serta ikut mempromosikan ke dunia.
b. Diharapkan
kepada pemerintah untuk dapat memberi bantuan secara merata tanpa memandang ras
dan kasta.
c. Sebagai
masyarakat Jambi Khususnya dan sebagai masyarakat nusantara umumnya harus
pandai memilah dan memilki pengetahuan terhadap budaya yang ada agar nantinya
budaya tersebut tidak pernah raib dari peradaban dan perubahan.
No comments:
Post a Comment